
Liquefied Petroleum Gas (LPG) telah menjadi sumber energi utama untuk memasak di Indonesia sejak program konversi minyak tanah pada tahun 2007. Namun, LPG merupakan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) selama proses produksi, distribusi, maupun pembakarannya. Selain itu, sekitar 70–80% kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor sehingga menimbulkan tantangan terhadap ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengganti LPG yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan memanfaatkan sumber daya domestik.
Kompor induksi merupakan salah satu alternatif paling menjanjikan untuk menggantikan LPG. Teknologi ini memanfaatkan medan elektromagnetik sehingga panas langsung dihasilkan pada peralatan masak, bukan melalui api terbuka. Efisiensi energi kompor induksi dapat mencapai sekitar 85–90%, jauh lebih tinggi dibandingkan kompor LPG yang umumnya hanya berkisar 40–60% (Suharsono et al., 2022). Selain itu, penggunaan kompor induksi menghasilkan kualitas udara dalam ruangan yang lebih baik karena tidak menghasilkan emisi pembakaran secara langsung (Leach et al., 2023). Biogas merupakan bahan bakar yang dihasilkan melalui proses fermentasi anaerob limbah organik seperti kotoran ternak, limbah makanan, dan limbah pertanian. Kandungan utama biogas adalah metana (CH₄) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak. Penggunaan biogas mampu mengurangi emisi GRK karena memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya menghasilkan emisi metana secara alami (Kumar et al., 2023).
Green Hydrogen diproduksi melalui proses elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin. Saat digunakan sebagai bahan bakar, hidrogen hanya menghasilkan uap air sehingga hampir tidak menghasilkan emisi karbon pada tahap penggunaan (Zhang, 2024). Namun demikian, teknologi ini masih menghadapi tantangan berupa biaya produksi yang tinggi, kebutuhan infrastruktur distribusi baru, serta aspek keselamatan penyimpanan hidrogen. Dimethyl Ether (DME) merupakan bahan bakar gas yang memiliki karakteristik fisik menyerupai LPG sehingga dapat digunakan dengan modifikasi peralatan yang relatif kecil. Manfaat lingkungan DME sangat bergantung pada bahan baku produksinya. Apabila DME diproduksi dari batubara, emisi karbon sepanjang siklus hidupnya justru dapat lebih tinggi dibandingkan LPG. Sebaliknya, apabila diproduksi dari biomassa atau limbah organik (bio-DME), emisi karbon dapat berkurang secara signifikan (Kim et al., 2024).
Berdasarkan kondisi Indonesia saat ini, tidak terdapat satu solusi tunggal yang mampu sepenuhnya menggantikan LPG. Pendekatan yang paling realistis adalah kombinasi beberapa teknologi sesuai karakteristik wilayah. Untuk kawasan perkotaan dengan jaringan listrik yang baik, kompor induksi menjadi pilihan paling siap diterapkan karena efisiensinya tinggi dan teknologinya telah matang. Sementara itu, wilayah pedesaan yang memiliki banyak limbah organik lebih sesuai mengembangkan biogas. Dalam jangka panjang, hidrogen hijau berpotensi menjadi solusi nol emisi apabila biaya produksinya semakin kompetitif dan infrastruktur telah tersedia. Adapun DME sebaiknya diprioritaskan apabila diproduksi dari biomassa atau sumber karbon rendah agar manfaat lingkungannya benar-benar tercapai. Dengan memadukan berbagai alternatif, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca.
Comments are closed