
Industri minyak dan gas menghadapi tantangan besar dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sekaligus mempertahankan keamanan dan keandalan pasokan energi. Aktivitas industri migas menghasilkan emisi tidak hanya dari proses pembakaran energi, tetapi juga dari kegiatan eksplorasi dan produksi, pengolahan, transportasi, penyimpanan, hingga penggunaan produk minyak dan gas oleh konsumen. Karena itu, strategi rendah karbon perlu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari hulu, midstream, hingga hilir.
Transisi menuju net-zero pada sektor minyak dan gas membutuhkan kombinasi antara efisiensi energi, pengembangan teknologi rendah karbon, pengurangan emisi operasional, serta diversifikasi menuju energi yang lebih bersih (Wang et al., 2023). Transisi tersebut tidak dapat dilakukan hanya melalui satu teknologi karena karakteristik aset, kebutuhan energi, kondisi ekonomi, dan kesiapan teknologi berbeda antarwilayah dan perusahaan. Langkah awal dalam dekarbonisasi industri migas adalah mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi proses. Kegiatan eksplorasi dan produksi, pengolahan minyak, pemompaan, kompresi gas, serta transportasi membutuhkan energi dalam jumlah besar. Penggunaan peralatan yang lebih efisien, optimasi proses, digitalisasi secara real-time dapat menurunkan konsumsi energi sekaligus emisi.
Selain karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄) merupakan komponen penting dalam strategi dekarbonisasi migas. Emisi metana dapat berasal dari kebocoran peralatan, venting, proses produksi, fasilitas pemrosesan, jaringan pipa, dan berbagai aktivitas operasional lainnya. Strategi pengurangan metana antara lain dilakukan melalui Leak Detection and Repair (LDAR), penggantian peralatan yang memiliki tingkat kebocoran tinggi, pemanfaatan sensor dan teknologi pemantauan emisi, serta pengurangan flaring dan venting (William, 2025). Pendekatan ini penting karena pengurangan emisi metana dapat memberikan dampak iklim dalam jangka relatif cepat. Strategi iklim perusahaan minyak dan gas menunjukkan bahwa metana dari venting dan kebocoran sumur maupun jaringan pipa merupakan salah satu sumber emisi non-CO₂ yang perlu diperhatikan dalam pencapaian target net-zero.
Diversifikasi energi merupakan strategi berikutnya dalam transformasi industri migas. Perusahaan dapat memanfaatkan tenaga surya, angin, panas bumi, dan sumber energi rendah karbon lainnya untuk memenuhi kebutuhan listrik fasilitas produksi dan pengolahan (Morgunova, 2022). Strategi perusahaan minyak dan gas menunjukkan bahwa investasi pada energi terbarukan dapat menjadi salah satu jalur transformasi perusahaan migas menuju perusahaan energi terintegrasi. Untuk fasilitas migas yang berada di wilayah terpencil, pembangkit energi terbarukan juga dapat dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi. Sistem hybrid seperti solar photovoltaic–battery dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan generator berbahan bakar diesel atau gas. Transisi industri migas menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan, teknologi, pendanaan, dan hubungan antara keamanan pasokan dengan target rendah karbon merupakan tantangan utama. Sehingga diperlukan strategi perusahaan yang terintegrasi dengan kebijakan pemerintah dan perkembangan pasar.
Comments are closed