Photo credit: Antara

Emisi metana (CH₄) merupakan salah satu isu utama dalam pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Gas ini terbentuk akibat dekomposisi anaerobik fraksi organik sampah, terutama bahan makanan, kertas, kayu, dan material organik lainnya. Karena TPA dapat terus menghasilkan gas selama bertahun-tahun setelah penimbunan, strategi mitigasi perlu dilakukan tidak hanya pada tahap operasi aktif, tetapi juga pada fase pasca-operasi. Strategi mitigasi yang paling mendasar adalah mengurangi jumlah bahan organik yang masuk ke TPA. Semakin besar kandungan bahan organik yang mengalami kondisi anaerobik, semakin besar potensi pembentukan landfill gas (LFG) yang didominasi oleh CH₄ dan CO₂ (Lakhouit, 2026). Oleh karena itu, pemilahan sampah dari sumber, pengomposan, anaerobic digestion yang terkontrol, serta pengolahan sampah organik sebelum masuk ke TPA dapat menurunkan potensi emisi secara langsung. Strategi mitigasi yang efektif harus mempertimbangkan karakteristik spesifik lokasi karena laju pembentukan dan pelepasan metana dapat berbeda secara signifikan antar-TPA.

Metode yang paling umum digunakan pada TPA dengan produksi gas relatif tinggi adalah pemasangan sistem gas collection. Gas dikumpulkan melalui jaringan sumur vertikal atau horizontal, kemudian dialirkan menuju fasilitas pengolahan. Metana yang tertangkap dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, misalnya untuk pembangkitan listrik atau sebagai bahan bakar setelah dilakukan pemurnian. Jika pemanfaatan energi tidak memungkinkan, gas dapat dialirkan ke sistem pembakaran (flaring) untuk mengubah CH₄ menjadi CO₂. Pendekatan landfill gas-to-energy memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi pelepasan CH₄ ke atmosfer dan menghasilkan energi dari gas yang sebelumnya merupakan emisi (Saul, 2026). Namun, efektivitas sistem ini sangat bergantung pada efisiensi penangkapan gas. Efisiensi penangkapan sangat bervariasi antar lokasi. Variasi tersebut dipengaruhi oleh cakupan dan desain sumur, kualitas operasi dan pemeliharaan, jenis penutup TPA, karakteristik sampah, serta umur dan kondisi TPA.

Salah satu teknologi mitigasi yang semakin banyak dikembangkan adalah oksidasi biologis metana menggunakan mikroorganisme metanotrof. Prinsipnya adalah menyediakan media biologis yang memungkinkan CH₄ dari TPA bereaksi dengan oksigen dan dioksidasi oleh mikroorganisme sebelum mencapai atmosfer. Bentuk teknologi yang banyak digunakan meliputi biocover, biowindow, dan biofilter. Biocover merupakan lapisan penutup TPA yang menggunakan material aktif secara biologis, seperti kompos atau campuran tanah-organik, untuk meningkatkan aktivitas oksidasi metana. Biowindow merupakan zona permeabel yang dibuat pada bagian tertentu dari penutup TPA sehingga gas dapat diarahkan menuju area dengan kapasitas oksidasi tinggi. Sementara itu, biofilter digunakan untuk mengolah aliran gas tertentu yang dikumpulkan dan diarahkan menuju media biologis (Majdinasab, 2017). Sistem tersebut menggunakan material biologis aktif berupa kompos untuk mendukung oksidasi CH₄.

Pendekatan lain adalah melakukan aerasi in-situ untuk mengubah kondisi degradasi sampah dari anaerobik menjadi lebih aerobik. Teknologi aerobic bioreactor landfill bertujuan mempercepat stabilisasi sampah dan mengurangi pembentukan metana. Aerasi dapat dilakukan melalui sistem sumur atau jaringan perpipaan yang memasukkan udara ke dalam massa sampah. Teknologi landfill aerobik memiliki potensi untuk mempercepat stabilisasi sampah dan memberikan kontribusi terhadap mitigasi metana. Berbagai konfigurasi aerasi, termasuk sistem horizontal, vertikal, serta kombinasi dengan pengelolaan lindi, dapat diterapkan sesuai kondisi TPA (Ghosh, 2026). Namun, teknologi ini membutuhkan desain yang lebih kompleks dan konsumsi energi untuk proses aerasi, sehingga analisis teknis dan lingkungan perlu dilakukan sebelum implementasi.

Comments are closed